BUWiTpz8GpMlGSz5BUz8GUA7BA==

Terobosan Baru, Kemenkes Perkenalkan Prototipe Vaksin Dengue Tetravalen Teknologi mRNA

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin Luncurkan vaksin Dengue Tetravalen Berbasis mRNA.Foto/Ist
Sorotperistiwa.id, Jakarta - Teknologi mRNA sebelumnya dikenal saat pandemi COVID-19, kini dikembangkan pertama kalinya dalam dunia kedokteran guna menghadang virus demam berdarah dengue.

Terobosan tersebut ditandai dengan peluncuran resmi purwarupa (prototype) Vaksin Dengue Tetravalen Berbasis mRNA di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu (8/7/2026). 

Vaksin tersebut dapat dimanfaatkan sebagai materi genetik (gen preM-E) virus dengue strain asli Indonesia yang merupakan hasil riset pengembangan vaksin bersama Universitas Indonesia (UI), dengan Tsinghua University (Tiongkok), dan PT Etana Biotechnologies Indonesia.

Peluncuran purwarupa dilakukan bersama Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin; Rektor UI Heri Hermansyah; Vice President Tsinghua University Prof. Wu Huaqiang; Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Stella Christie; Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria; serta Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar.

Momentum tersebut menjadi tonggak penting bagi kemandirian industri vaksin nasional, dan bila berhasil, maka produk tersebut akan menjadi vaksin mRNA pertama di dunia untuk penyakit demam berdarah, sekaligus menjadi antigen ke-6 yang mampu diproduksi Indonesia dari hulu ke hilir.

"Kalau ini berhasil, maka akan menjadi salah satu vaksin baru yang diproduksi di Indonesia dengan teknologi paling mutakhir. Kita harus berterima kasih kepada para peneliti Indonesia yang sudah mampu setara dengan peneliti dunia," ujar Menkes Budi.

Inisiatif percepatan ini menjadi buah pembelajaran dari masa pandemi COVID-19, saat Indonesia tidak memiliki akses terhadap kebutuhan medis darurat seperti vaksin, alat terapeutik, dan diagnostik. 

Sejak periode 2020-2022 pemerintah bertekad membangun fasilitas riset sendiri. Dari semula hanya ada satu perusahaan vaksin, kini Indonesia memiliki empat perusahaan, yaitu Bio Farma, Biotis, Etana, dan JBio. 

Dari 16 jenis antigen yang dibutuhkan untuk program imunisasi rutin nasional, saat ini baru 11 antigen yang sudah mampu diproduksi lokal. Sebanyak 5 antigen diproduksi secara mandiri dari hulu mulai riset, pembuatan bibit vaksin, hingga manufaktur. 

Sementara 6 antigen lainnya masih sebatas proses perakitan (assembly) atau formulasi akhir karena bahan bakunya masih diimpor dari Tiongkok dan India."Target saya, sebelum tahun 2030, ke-11 antigen sisanya harus bisa kita produksi utuh dari hulu ke hilir," tegas Menkes Budi. Dimana kolaborasi Riset UI - Tsinghua  sebelumnya telah dirintis sejak tahun 2023. 

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, mengungkapkan bahwa dirinya saat masih berstatus profesor mempertemukan tim peneliti UI dengan Profesor Zhang Linqi dari Tsinghua University, salah satu ahli vaksin terkemuka di dunia.

"Hampir semua vaksin manjur di dunia lahir dari riset di universitas. Model kerja sama seperti ini penting. Kita bekerja bersama secara sungguh-sungguh. Di sisi lain analisis kebutuhan, dukungan anggaran, dan komitmen kementerian harus berjalan bersama," ungkap Wamen Stella.

Prioritas Tekan Beban DBD di Indonesia

Disisi Pemilihan dengue sebagai salah satu prioritas didasarkan pada tingginya angka kejadian kasus di Indonesia. Data Kemenkes mencatat setiap tahunnya terdapat sekitar 151 ribu kasus dengue dengan 650 kematian. 

Jumlah ini menempatkannya di antara penyakit dengan angka beban tinggi bersama TBC, HIV, dan malaria. "Kami memprioritaskan pengembangan vaksin baru berdasarkan beban insiden dan angka kematian tertinggi. Ibu-ibu tentu tidak ingin anaknya disuntik terlalu banyak jenis vaksin, jadi kita pilih yang benar-benar prioritas," jelas Menkes Budi.

Menutup sambutannya, Menkes Budi mengajak seluruh ilmuwan dan peneliti tanah air untuk mewujudkan hasil riset menjadi produk nyata yang menyelamatkan nyawa, bukan berhenti pada publikasi ilmiah semata.

"Anda mungkin bangga menulis di jurnal internasional dengan impact factor tinggi, tetapi Anda belum benar-benar berkontribusi pada kemanusiaan jika tulisan itu hanya berakhir sebagai tumpukan kertas. Ubahlah paper itu menjadi produk yang benar-benar menyelamatkan nyawa," pungkasnya. (Ibra)**

Bakom Kemenkes RI

Komentar0

Type above and press Enter to search.