![]() |
| MoU antara Danantara Indonesia Trust DIT dan Kementerian Kesehatan di Wisma Danantara Indonesia. Foto Istimewa |
Jakarta – Filantropi jadi kunci penguat layanan kesehatan. Itu ditegaskan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat menyaksikan penandatanganan MoU antara Danantara Indonesia Trust DIT dan Kementerian Kesehatan di Wisma Danantara Indonesia, Jakarta, Senin (25/5/2026).
“Filantropi basisnya kepercayaan. Kalau kepercayaan terbangun, filantropi jadi katalis atau leverage untuk memperbesar dampak program kesehatan,” ujar Menkes Budi.
Kolaborasi ini fokus ke kesehatan dan gizi ibu-anak, 3 pilar utama:
1. Vaksin heksavalen; untuk lindungi anak dari berbagai penyakit menular
2. Penguatan cold chain; vaksin agar distribusi merata sampai daerah
3. Suplemen multiple micronutrient; untuk keselamatan ibu hamil, persalinan, dan cegah stunting
Langkah ini krusial di tengah tren bantuan luar negeri yang menurun global. Dana filantropi diharapkan jadi pengungkit agar lebih banyak sumber daya bergerak untuk prioritas kesehatan Indonesia.
Data WHO-UNICEF 2026 menunjukkan tantangan masih besar: cakupan imunisasi dasar lengkap 80,2% di 2025, tapi ada ∼960 ribu anak zero-dose yang belum dapat imunisasi sama sekali. Artinya akses dan distribusi vaksin harus terus diperluas.
Pembina DIT sekaligus CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani menegaskan Danantara hadir bukan hanya kelola aset negara, tapi juga berkontribusi pada kemajuan sosial dan SDM. Melalui DIT, intervensi ke ibu hamil, bayi, dan anak akan dipercepat.
“Kolaborasi pemerintah-filantropi harus terus dikuatkan. Tantangan kesehatan nggak bisa diselesaikan sendiri. Dengan tata kelola baik dan pendekatan katalitik, filantropi jadi kekuatan penting untuk sistem kesehatan yang lebih tangguh dan merata,” pungkas Menkes Budi. ***
Sumber: Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes RI

Komentar0