BUWiTpz8GpMlGSz5BUz8GUA7BA==

Tauhid Menggerakkan Zaman dan Peradaban

Tauhid Menggerakkan Zaman dan Peradaban
Ketua Bidang II Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Pradana Boy.


Sorot Peristiwa, Yogyakarta - Pengajian Ramadan 1447 H yang digelar Pimpinan Pusat Muhammadiyah di UMY Dormitory, Sabtu (21/2/2026), menghadirkan refleksi mendalam tentang makna tauhid sebagai energi gerakan.

Ketua Bidang II Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Pradana Boy, mengajak peserta menelusuri gagasan tauhid dari tiga tokoh penting persyarikatan: Ahmad Dahlan, Mas Mansyur, dan AR Fachruddin.

Dalam materi bertajuk Gagasan Tauhid Tokoh-Tokoh Muhammadiyah, Pradana Boy tidak langsung masuk pada biografi pemikiran ketiganya. Ia terlebih dahulu membentangkan spektrum teori tauhid yang berkembang dalam khazanah Islam klasik, baik dari ulama salaf maupun khalaf. Menurutnya, meski teori tauhid telah dirumuskan dalam ragam pendekatan teologis, gagasan para tokoh Muhammadiyah tetap kontekstual dan responsif terhadap perubahan zaman.

“Gagasan tauhid maupun gerakan tindakan tauhid yang disampaikan tokoh-tokoh Muhammadiyah itu sejalan dengan pemikiran ulama-ulama tersebut,” ujarnya.

Tauhid dan Aksi Nyata Kiai Dahlan

Dalam pemaparannya, Pradana Boy menekankan bahwa KH Ahmad Dahlan bukan hanya pembaru pemikiran, tetapi juga penggerak perubahan sosial. Tauhid yang dibangunnya bertumpu pada monoteisme murni, penolakan terhadap sinkretisme dan takhayul, serta semangat pemurnian ajaran Islam.

Kiai Dahlan, jelasnya, memadukan man of thought dan man of action. Tauhid tidak berhenti sebagai doktrin, melainkan menjelma menjadi gerakan pendidikan, pelayanan sosial, dan pembaruan keagamaan. Dari sinilah Muhammadiyah tumbuh sebagai gerakan tajdid yang berakar pada keyakinan dan berbuah pada aksi nyata.

Tauhid Amali dan Etika Kemajuan

Tokoh kedua, KH Mas Mansyur, menghadirkan wajah tauhid yang lebih operasional melalui konsep Tauhid Amali. Bagi Mas Mansyur, tauhid adalah fondasi gerakan dan etika sosial sebuah teologi welas asih yang mendorong cinta kasih dan empati tanpa diskriminasi.

Ia juga menegaskan bahwa Islam tidak bertentangan dengan akal. Karena itu, sikap jumud harus ditinggalkan. Tauhid, menurutnya, harus menjadi landasan kemajuan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan pembaruan sosial. Dengan demikian, iman dan rasionalitas berjalan beriringan membangun peradaban.

Kesederhanaan dan Keotentikan Pak AR

Sementara itu, sosok KH AR Fachruddin ditampilkan sebagai figur yang mempraktikkan tauhid dalam kesederhanaan hidup dan keteladanan akhlak. Pradana Boy menyebut karakter simplicity, kecerdasan, dan tasawuf akhlaki sangat melekat dalam diri Pak AR.

Ia mengutip pandangan Ahmad Syafii Maarif yang menyebut Pak AR sebagai sosok yang beragama secara otentik—memahami Islam sebagai ajaran universal yang dapat diterima siapa saja.

Bagi Pak AR, tauhid bukan retorika besar, melainkan laku keseharian: rendah hati, jujur, dan tulus dalam pengabdian.

Tauhid sebagai Energi Transformasi

Melalui pengajian ini, peserta diajak melihat tauhid dalam tiga level yang saling terhubung: kebenaran pemikiran, keberanian tindakan, dan ketulusan hati. Ketiganya menjadi fondasi karakter gerakan Muhammadiyah.

Dari Kiai Dahlan yang visioner, Mas Mansyur yang progresif, hingga Pak AR yang bersahaja, tauhid dipahami bukan sebagai konsep teoretis yang beku. Ia adalah energi transformasi—daya hidup yang menggerakkan pembaruan Islam dan menuntun umat menuju kemajuan peradaban. **

Komentar0

Type above and press Enter to search.